HMPS AKUNTANSI SYARIAH UIN SALATIGA GELAR SHARIA ACCOUNTING GOES TO SCHOOL DI SMK NEGERI 1 SALATIGA
Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Akuntansi Syariah sukses menggelar bedah isu fenomena kronologi tagar ”Sell Singapore” yang berujung pada ajakan uninstall Shopee. Belakangan ini, jagat media sosial Indonesia diramaikan oleh gerakan tandingan netizen melalui tagar #SellSingapore sebagai aksi boikot terhadap aplikasi Shopee. Gerakan ini mencuat sebagai respons emosional sekaligus kritik atas fenomena capital outflow (aliran modal keluar) yang sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahkan nilai tukar rupiah. Ketika para analis investasi global sempat mengeluarkan narasi "Sell Indonesia", warganet bergerak secara digital di sektor mikro dengan menyerang balik melalui tagar #SellSingapore untuk membela perekonomian domestik.
Mengapa Singapura menjadi sasaran dan mengapa Shopee diboikot? Singapura dikenal sebagai financial hub terbesar di Asia Tenggara, tempat pelarian modal (capital outflow). Warganet merasa tidak adil jika uang dari kantong masyarakat Indonesia justru memperkuat ekosistem ekonomi Singapura saat domestik sedang tertekan. Aksi uninstall Shopee dinilai sebagai langkah cepat dan taktis yang bisa diambil oleh masyarakat awam. Jika aksi ini dilakukan secara masif, dampaknya berpotensi masuk ke ranah tahanan ekonomi, yang memaksa pasar untuk melirik dan menghidupkan kembali platform e-commerce lokal maupun UMKM offline.
Namun, muncul pertanyaan mendasar: ”apakah yang dipermasalahkan itu barangnya atau tokonya?” Mengingat barang-barang yang dijual di berbagai platform digital relatif sama, tantangan terbesar ada pada adaptasi perilaku belanja masyarakat.
Fleksibilitas Online vs Offline: Penjual memilih bertahan di platform online karena dinilai lebih fleksibel, menjanjikan, cepat, dan efisien daripada membuka toko offline.
Strategi Produk Lokal: Untuk bersaing, pelaku usaha lokal harus memaksimalkan kualitas produk, gencar beriklan, dan mengadakan pameran agar masyarakat tertarik beralih ke aplikasi atau produk buatan anak bangsa.
Pekerjaan Rumah (PR) Pemerintah: Pemerintah dituntut untuk melahirkan kebijakan yang masuk akal (make sense) agar tidak memicu demonstrasi, sekaligus memformulasikan insentif yang mampu mengarahkan masyarakat untuk menggunakan e-commerce lokal.
Sesi Tanya Jawab (Q&A): Bedah Isu Gerakan #SellSingapore
1. Bagaimana cara sederhana buat kita, anak muda atau masyarakat biasa, untuk membantu menguatkan rupiah lagi agar tidak kalah dengan mata uang asing?
"Cara paling konkret adalah dengan menumbuhkan rasa cinta dan loyalitas terhadap produk lokal. Kita harus mengurangi konsumsi barang impor dan mengalihkan transaksi ke UMKM atau platform e-commerce domestik. Dengan membeli produk lokal, perputaran uang akan tetap berada di dalam negeri, permintaan terhadap produk domestik meningkat, dan secara perlahan hal ini dapat membantu memperkuat nilai tukar rupiah kita dari sektor mikro," ujar perwakilan HMPS Akuntansi Syariah.
2. Apakah aksi gerakan Uninstall Shopee akibat tagar #SellSingapore benar-benar efektif menahan aliran modal keluar (capital outflow) dari Indonesia ke Singapura?
Forum menjelaskan, "Gerakan digital ini mungkin tidak langsung menghentikan aliran modal besar di pasar saham. Namun, di tingkat mikro, aksi ini sangat efektif sebagai instrumen tekanan publik (social pressure) dan bentuk kritik tajam.
3. Mengapa netizen memilih menyerang aplikasi besar seperti Shopee daripada menutup bank-bank asing yang ada di Indonesia?
"Pertama, Shopee memiliki basis pengguna retail yang sangat masif di kalangan anak muda dan masyarakat umum, sehingga aksi boikot terasa lebih cepat viral dan dampaknya langsung terasa. Kedua, masyarakat awam masih jarang yang menggunakan atau bersentuhan langsung dengan bank asing tersebut dalam kesehariannya. Ketiga, bank-bank asing yang beroperasi di Indonesia diawasi dengan sangat ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia (BI), sehingga menutup atau memboikotnya secara sembarangan justru berisiko mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional," tegasnya.
Kesimpulan
"Pada intinya, fenomena #SellSingapore mengajarkan bahwa masyarakat Indonesia harus bijak dalam menyikapi persoalan yang sedang booming di media sosial. Gerakan ini tidak boleh berhenti sebatas amarah digital semata, melainkan harus dijadikan peluang dan strategi bagi para pelaku usaha lokal untuk meningkatkan kualitas produknya. Kerja sama dengan investor asing memang membawa benefit bagi investasi dan lapangan kerja di Indonesia, namun kemandirian ekonomi melalui penguatan produk lokal tetap menjadi kunci utama demi menjaga stabilitas rupiah," pungkas narasumber di akhir acara.
Komentar
Posting Komentar